kata SAYA !
———————————————————————————————————-

Saya mendefinisikan digitalisme sebagai sebuah pemikiran yang memperlakukan dunia sebagai suatu sistem yang terkomputerisasi. Kemudian saya menyimpulkan era digitalisme sebagai sebuah era di mana segala sesuatunya telah terkomputerisasi secara digital. Era digitalisme adalah era di mana semua pekerjaan manusia telah dipermudah oleh sistem yang terkomputerisasi. Era di mana manusia hidup di kehidupan yang serba instan. Era di saat kehidupan manusia paling mikro sekalipun telah terbantu oleh sistem digital. Pada era digitalisme peran cobek dalam membantu kegiatan ibu-ibu menghaluskan cabai telah digantikan oleh mesin penggerus untuk membantu, peran sempoa dalam mengkalkulasi sejumlah hitungan telah digantikan oleh kalkulator dengan ketelitian mencapai 30 digit di belakang koma. Di era ini sukar untuk menemukan masyarakat yang mencuci sandang mereka menggunakan tangan, mayoritas sudah menggunakan mesin untuk mencuci baju sekalipun. Bahkan tak sedikit masyarakat yang menggunakan mesin pencuci piring untuk mencuci piring tentunya. Segala sesuatunya dibantu oleh mesin. Digitalisme membunuh analogisme. Namun di setiap keberlangsungan suatu era selalu ada yang dirugikan dan diuntungkan. Selalu ada saja yang tidak bisa bertahan di tengah invasi era yang baru. Selalu saja ada yang masih memakai cara lama dan tidak mau beradaptasi , atau lebih tepatnya tidak mampu. Selanjutnya akan dijelaskan lebih terperinci di alinea-alinea selanjutanya.


Sebagai salah satu masyarakat sadar pendidikan dan teknologi , saya tidak bisa naïf bahwasanya teknologi digital membantu satu dan lain hal dalam melakukan sesuatu. Teknologi ini bukan saja membantu saya seorang tetapi peradaban manusia pun ikut terbantu dengan teknologi serba digital ini.
Bagi hidup saya contohnya dalam proses edukasi saya terbantu dalam hal riset mencari referensi dan segala tetek-bengek tentangnya. Saya tak perlu menghabiskan energi yang banyak untuk pergi ke perpustakaan , mengubek-ngubek seisi rak buku di perpustakaan untuk sekedar mencari referensi pustaka. Saya cukup mengetikkan istilah yang ingin saya cari tahu di mesin pencari pada dunia maya. Bahkan seandainya pun harus pergi perpustakaan, saya akan melihat sekali lagi buah dari invasi teknologi digital. Di sana saya melihat pegawai perpustakaan dengan mudahnya menunjukkan pada saya buku yang mengupas bahan yang ingin saya cari setelah pegawai perpustakaan tersebut mengutak-atik katalog di dalam computer miliknya. Lucunya lagi saat menulis essay tentang ini saya pun tak perlu menguras energi yang tak perlu untuk menulis di kertas menggunakan tinta. Bila saya salah pun tak kurang dari 2 detik saya bisa mengoreksi apa yang sudah saya tulis. Saya tak perlu menunggang kuda untuk berangkat dari rumah ke kampus. Semuanya serba praktis! Kehidupan saya yang paling mikro terbantu sekali dengan hadirnya teknologi digital ini. Bukan maksud untung mempersuasi atau mempropagandakan teknologi digital tetapi memang begitu adanya.
Kehidupan makro ? Di dunia medik contohnya , tIdak hanya satu-dua orang yang terselamatkan dari wabah disentri. Semenjak majunya terselamatkan dengan kemajuan teknologi kesehatan yang sekali lagi adalah produk dari era digitalisme. Tak sedikit pula yang terselematkan dari serangan kangker ganas. Sejak teknologi kesehatan yang terkomputerisasi dengan baik dan mutakhir , mayoritas penyakit dapat dideteksi sejak dini, sehingga pasien dapat dipulihkan lebih mudah sebelum penyakit menjangkit ke seluruh organ tubuh sang pasien. Sang ibu hamil tidak perlu menunggu sang buah hati lahir ke dunia terlebih dahulu untuk mengetahui jenis kelamin sang buah hati. Semenjak hal tersebut bisa dilakukan oleh salah satu produk teknologi digital bernama ultrasonografi yang bekerja menggunakan gelombang suara dengan frekuensi 20.000 Hertz dan menciterakan apapun yang ditumbuknya ke dalam suatu layar.
Selalu ada yang tidak menyenangkan dari “invasi” era ini. Adalah masyarakat yang tak mau atau tak mampu beradaptasi dengan kedatangan teknologi ini (teknologi digital). Konsekwensi logis dari masyarakat yang tak mampu beradaptasi atau secara ekonomi adalah ketidakmampuan dalam membeli teknologi ini. Dan biasanya masyarakat kurang mampu ini akan tersisihkan dari pergaulan masyarakat yang lebih sadar teknologi. Masyarakat kurang mampu ini kemudian akan disebut sebagai masyarakat ketinggalan zaman. Dan untuk seterusnya sampai sekarang masyarakat ketinggalan jaman akan dikonotasikan secara negatif sebagai masyarakat yang kuno. Dampak negatifnya peradaban manusia pun akan didominasi oleh yang lebih sadar teknologi. Dari situ lahirlah paham-paham kapitalisme , di mana yang lebih punya adalah yang menang. Lagi-lagi status ekonomi seseorang menentukan keberadaan individu tersebut, di posisi yang diuntungkan dengan eksistensi tekonologi digital ini atau menjadi pihak yang tak bisa beradaptasi dan tak bisa sedikit pun mendapat keuntungan dari teknologi ini. Yah, kembali ke paham kapitalisme tadi , yang bisa bertahan adalah yang punya uang , pun tidak menutup kemungkinan ada saja masyarakat dengan ekonomi mapan tetapi memilih untuk tidak hidup dari teknologi digital. Walaupun secara tidak sadar si masyarakat ekonomi mapan tidak sadar teknologi ini tetap hidup menggunakan teknologi digital. Dari pengkotakkotakkan tadi (“si kuno” dan “si mutakhir”) timbul jurang pemisah yang mengakibatkan kesenjangan sosial dan kecemburuan sosial. Interaksi sosialpun tak berjalan dengan baik.

Contoh kasus sederhana dari uraian di atas:
Salah seorang perempuan yang tak mampu membeli mesin penggerus akan tetap menggunakan cobek untuk menghaluskan cabai. Ketika tetangga perempuan tersebut kebetulan mampu untuk membeli mesin penggerus. Si perempuan akan mencoba untuk meraih apa yang dimiliki tetangganya, maka akan timbul kecemburuan sosial antara si perempuan dan tetangganya. Ketika kecemburuan itu ditanggapi tidak secara positif, si perempuan akan berusaha meraih apa yang dimiliki tetangganya. Kebutuhan meningkat, tetapi tidak didukung dengan penghasilan yang meningkat. Timbulah kesenjangan sosial. Ini baru soal mesin penggerus, bayangkan apabila si perempuan meminta untuk pemutakhiran semua aspek kehidupan miliknya.
Sebenarnya bukan hanya pihak yang tak mampu secara ekonomi saja yang dirugikan. Pihak yang mampu pun secara tak sadar juga bisa dirugikan dengan invasi teknologi digital ,paling tidak secara mental. Pada dasarnya, digitalisisasi secara masif dan taraf yang berlebihan bisa menciderai pola pikir pengguna yang siap mengaplikasikan teknologi ini. Ya, pola pikir masyarakat yang lahir dari era digitalisme adalah pola pikir praktis dan tidak apresiatif. Bagi mereka hidup adalah suatu sistem sederhana , sesederhana menghidangkan dan menyantap mie instan Semua ingin segala sesuatunya serba instan, serba cepat. Pola pikir yang terbentuk adalah pola pikir result-oriented. Ya mereka akan berorientasi seratus persen pada hasil, tanpa memikirkan proses di belakangnya. Walaupun, tak ada hak untuk menyalahkan si pengguna teknologi yang bersangkutan. Namun hal inilah yang mengakibatkan hilangnya apresiasi, penghargaan terhadap proses terjadinya sesuatu. Akhirnya masyarakat dari era ini akan terpengaruh untuk menjadi bagai mesin pula. Ketika semua pekerjaan manusia dilakukan oleh mesin ,hidup akan kehilangan dinamisasinya. Hidup kehilangan seninya.

Kejahatan pun terbantu oleh adanya teknologi digital. Manusia tidak perlu menghabiskan energi yang berlebihan untuk mencabut nyawa jutaan manusia. Semenjak teknologi nuklir ditemukan, semenjak itu juga lah kita menemukan pencabut nyawa artifisial. Tentu kita masih ingat 220 ribu jiwa manusia yang melayang akibat ganasnya teknologi nuklir. Itu terjadi pada tahun 1945. Dari 1945 menuju 2012 ada selang 68 tahun , bayangkan teknologi nuklir macam apa yang dilahirkan oleh tangan manusia pada era digital seperti sekarang. Pastinya semakin efektif, dan pastinya lagi nyawa yang harus dibayar lebih dari 220 ribu jiwa manusia. Dan sekali lagi semuanya dilakukan secara praktis.
Di akhir perjalanan kata demi kata yang sudah saya tuangkan sedari tadi. Saya baca ulang tulisan saya sendiri. Dan semakin saya merasa betapa tulisan ini tidak mengindahkan aspek efesiensi mencapai tujuan. Oh tidak ! Sepertinya tidak perlu pembedahan otak semacam lobotomy atau sejenisnya untuk membentuk pola pikir baru; pola pikir praktis ! Oke persetan ! Seburuk apapun hidup , hidup saya harus sanggup menemukan seninya. Hidup berseni. Seni berkehidupan.
Saya tahu menjalani hidup bukanlah seuntaian cara menyajikan mie instan. INI HIDUP ! BUKAN SUPERMI !

Barisan Nisan oleh Morgue Vanguard (alm. Homicide; band hiphop paling metal paling punk dari segala band metal dan punk di indonesia)
